Setujukah
kita bahwa pendidikan formal tidak menjamin kesuksesan. Ketika lulus smu/smk
akan terbayang apakah melanjutkan kuliah, bekerja, atau berwirausaha. Jika melanjutkan
ke perguruan tinggi akan menghadapi banyak teori – teori yang memusingkan. Dan
banyak dari mereka kecewa karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Mulai
dari jadwal yang sering ganti, dosennya sering absen, proses skripsi diperlambat,
dan sebagainya. Lihat sekeliling kita apakah mereka sukses dengan gelarnya? Apakah
dari mereka mendapatkan apa yang diinginkan selain nilai? Bisakah mereka
mempertanggung jawabkan nilainya? Jika pertanyaan tersebut ada jawaban ya, coba
bandingkan dengan jawaban tidak! Berbeda kalau langsung bekerja, dapat upah,
tunjangan kesehatan, dan pengalaman tentunya. Tetapi bekerja dengan orang lain
itu akan terasa membosankan. Upah yang kurang, tidak ada libur bahkan ada yang
ditunda gajinya sampai berbulan-bulan. Derita seorang pegawai jika salah akan
mendapat teguran dari atasan sampai dipecat. Padahal mencari lowongan semakin
sulit dan persaingan semakin ketat. Banyak persyaratan yang tidak mampu
dipenuhi oleh calon pegawai. Sangatlah berbeda jika mempunyai usaha sendiri
penghasilan bisa diatas gaji seorang pegawai. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi,
karena ilmu yang tinggi itu adalah pengalaman hidup. Banyak mereka yang putus
sekolah, kerja, kuliah justru menjadi jauh lebih sukses.
Sebagai
contoh di luar negeri, berdasarkan artikel Forbes Januari 2012, nyaris 16% dari
400 pengusaha terkaya Amerika tidak memiliki gelar sarjana. Bagi sebagian
pengusaha, perguruan tinggi tidak begitu penting. Malah pengusaha seperti Walt
Disney dan Richard Branson tidak pernah mendaftar masuk perguruan tinggi. Kalau
contoh di Indonesia yang dikutip dari www.banguninspirasi.com, Hendy Setiono merupakan brand owner
dari kebab turki baba rafi. Ia
memulai usahanya ketika masih kuliah dengan meminjam modal dari adiknya.Kini,
omsetnya mencapai 1 milyar per bulan dan telah tersebar ke seluruh Indonesia
dan luar negeri. Contoh lain menurut artikel yang ditulis putih-abu.com, Eka Tjipta Widjaja yang lahir pada tanggal 3 Oktober 1923
seorang pengusaha sekaligus bos besar Group
Sinar Mas. Dia adalah orang
terkaya kedua di Indonesia
setelah Budi
Hartono pemilik perusahaan Djarum.
Kurang lebih sebanyak 200 perusahaan dia
pimpin dengan karyawan ratusan ribu orang. Inilah fakta yang membuktikan
bahwa ijazah pendidikan
formal bukanlah segalanya.
Tunggu
apalagi mari pikirkan bisnis apa yang akan dijalani. Jangan takut gagal saat
menjalani bisnis yang sudah kita bangun. Karena orang gagal itu sudah dekat
dengan pintu kesuksesan. Modal yang dibutuhkan hanya tekat, bukan uang.
Pengusaha yang hebat itu berawal tanpa modal dengan istilah kasarnya “modal dengkul”. Apa bisa tanpa modal? Jawabannya sangat bisa.
Manfaatkan hobi sebagai ladang bisnis, sebagai contoh hobi menulis diary, dengan
diary bisa dijadikan karya yang bernilai tinggi. Yang pintar bermain musik
cobalah buka les privat dirumah sendiri atau datang kerumah murid. Hal sekecil
itu akan menjadi besar jika kita tekun dan terus berusaha untuk
mengembangkannya. Akan tetapi jangan terpaku dalam satu bisnis, coba yang lain
mungkin lebih menjanjikan. Salah satu keuntungan punya lebih dari satu bisnis bisa
menutupi kerugian bisnis yang satunya. Itu tanpa modal, bagaimana kalau punya
modal tetapi sedikit. Lihat kebutuhan pasar, mana yang menguntungkan, pilih
untung sedikit tapi lancar atau sebaliknya? Sebagai pemula carilah bisnis yang
untung sedikit tapi tak termakan masa tidak musiman. Apalagi kalau punya modal
besar harus jeli menggunakannya. Modal besar harus punya bisnis besar juga.
Rekrut satu orang untuk begabung dalam bisnis Anda. Pilihlah orang yang ahli
dalam bisnis Anda, tidak perlu yang berpengalaman. Anda yang bermodal, rekan
bisnis yang akan menjalankan bagilah keuntungan sama rata. Untung ditanggung
bersama, rugi juga ditanggung bersama.
Terima
kasih! Tunggu edisi selanjutnya ya!