Breaking News

Selasa, 08 Juli 2014

Bergeraklah



Setujukah kita bahwa pendidikan formal tidak menjamin kesuksesan. Ketika lulus smu/smk akan terbayang apakah melanjutkan kuliah, bekerja, atau berwirausaha. Jika melanjutkan ke perguruan tinggi akan menghadapi banyak teori – teori yang memusingkan. Dan banyak dari mereka kecewa karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Mulai dari jadwal yang sering ganti, dosennya sering absen, proses skripsi diperlambat, dan sebagainya. Lihat sekeliling kita apakah mereka sukses dengan gelarnya? Apakah dari mereka mendapatkan apa yang diinginkan selain nilai? Bisakah mereka mempertanggung jawabkan nilainya? Jika pertanyaan tersebut ada jawaban ya, coba bandingkan dengan jawaban tidak! Berbeda kalau langsung bekerja, dapat upah, tunjangan kesehatan, dan pengalaman tentunya. Tetapi bekerja dengan orang lain itu akan terasa membosankan. Upah yang kurang, tidak ada libur bahkan ada yang ditunda gajinya sampai berbulan-bulan. Derita seorang pegawai jika salah akan mendapat teguran dari atasan sampai dipecat. Padahal mencari lowongan semakin sulit dan persaingan semakin ketat. Banyak persyaratan yang tidak mampu dipenuhi oleh calon pegawai. Sangatlah berbeda jika mempunyai usaha sendiri penghasilan bisa diatas gaji seorang pegawai. Tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena ilmu yang tinggi itu adalah pengalaman hidup. Banyak mereka yang putus sekolah, kerja, kuliah justru menjadi jauh lebih sukses.

Sebagai contoh di luar negeri, berdasarkan artikel Forbes Januari 2012, nyaris 16% dari 400 pengusaha terkaya Amerika tidak memiliki gelar sarjana. Bagi sebagian pengusaha, perguruan tinggi tidak begitu penting. Malah pengusaha seperti Walt Disney dan Richard Branson tidak pernah mendaftar masuk perguruan tinggi. Kalau contoh di Indonesia yang dikutip dari www.banguninspirasi.com, Hendy Setiono merupakan brand owner dari kebab turki baba rafi. Ia memulai usahanya ketika masih kuliah dengan meminjam modal dari adiknya.Kini, omsetnya mencapai 1 milyar per bulan dan telah tersebar ke seluruh Indonesia dan luar negeri. Contoh lain menurut artikel yang ditulis putih-abu.com, Eka Tjipta Widjaja yang lahir pada tanggal 3 Oktober 1923 seorang pengusaha sekaligus bos besar Group Sinar Mas. Dia adalah orang terkaya kedua di Indonesia setelah Budi Hartono pemilik perusahaan Djarum. Kurang lebih sebanyak 200 perusahaan dia pimpin dengan karyawan ratusan ribu orang. Inilah fakta yang membuktikan bahwa ijazah pendidikan formal bukanlah segalanya. 

Tunggu apalagi mari pikirkan bisnis apa yang akan dijalani. Jangan takut gagal saat menjalani bisnis yang sudah kita bangun. Karena orang gagal itu sudah dekat dengan pintu kesuksesan. Modal yang dibutuhkan hanya tekat, bukan uang. Pengusaha yang hebat itu berawal tanpa modal dengan istilah kasarnya “modal dengkul”.  Apa bisa tanpa modal? Jawabannya sangat bisa. Manfaatkan hobi sebagai ladang bisnis, sebagai contoh hobi menulis diary, dengan diary bisa dijadikan karya yang bernilai tinggi. Yang pintar bermain musik cobalah buka les privat dirumah sendiri atau datang kerumah murid. Hal sekecil itu akan menjadi besar jika kita tekun dan terus berusaha untuk mengembangkannya. Akan tetapi jangan terpaku dalam satu bisnis, coba yang lain mungkin lebih menjanjikan. Salah satu keuntungan punya lebih dari satu bisnis bisa menutupi kerugian bisnis yang satunya. Itu tanpa modal, bagaimana kalau punya modal tetapi sedikit. Lihat kebutuhan pasar, mana yang menguntungkan, pilih untung sedikit tapi lancar atau sebaliknya? Sebagai pemula carilah bisnis yang untung sedikit tapi tak termakan masa tidak musiman. Apalagi kalau punya modal besar harus jeli menggunakannya. Modal besar harus punya bisnis besar juga. Rekrut satu orang untuk begabung dalam bisnis Anda. Pilihlah orang yang ahli dalam bisnis Anda, tidak perlu yang berpengalaman. Anda yang bermodal, rekan bisnis yang akan menjalankan bagilah keuntungan sama rata. Untung ditanggung bersama, rugi juga ditanggung bersama. 

Terima kasih! Tunggu edisi selanjutnya ya!
Read more ...
Designed By